"Ray, ayok nonton yang lain aja malam ini mumpung masih belum jam 7"
"Bentar aku cek dulu di mtix. Ada nih, film komedi keluarga. The Boss. Mau?"
"Okey"
"Ya udah sekarang aja yuk ke theaternya. Bentar lagi tayang", kata Raia.
"Bentar aku cek dulu di mtix. Ada nih, film komedi keluarga. The Boss. Mau?"
"Okey"
"Ya udah sekarang aja yuk ke theaternya. Bentar lagi tayang", kata Raia.
Raia melingkarkan tangannya di lengan Raga. Sebentar. Raia ragu. Raga meraih tangan Raia, menggenggam tangannya. Raia terlihat begitu bahagia cuman dengan hal yang sederhana seperti ini. Raga melihat ekspresi wajah Raia. Pure bliss.
Setelah menunggu sebentar, mereka masuk ke studio 2. Movie belum dimulai. Mereka masih bisa ngobrolin hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup mereka di beberapa bulan terakhir. Mereka memang tidak banyak kontak beberapa minggu terakhir karena kesibukan. Raia, yang jika sedang sibuk riset seperti lupa waktu sama juga dengan Raga jika sibuk membuat karya kreatif.
Setelah menunggu sebentar, mereka masuk ke studio 2. Movie belum dimulai. Mereka masih bisa ngobrolin hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup mereka di beberapa bulan terakhir. Mereka memang tidak banyak kontak beberapa minggu terakhir karena kesibukan. Raia, yang jika sedang sibuk riset seperti lupa waktu sama juga dengan Raga jika sibuk membuat karya kreatif.
Raga bertanya sama Raia, "Boleh aku pegang tangan kamu?"
"Boleh dong", sambil senyum lebar. Raia membebaskan dirinya berekspresi. Raia jarang membuka emosinya ke orang lain, terutama ke teman hang-out dia. Kebanyakan yang dia tampakkan adalah muka serius. Mereka pegangan tangan selama 2 jam dari awal sampe akhir film.
"Ray, tadi aku lihat kamu beda banget. Ngga seperti biasanya. Kamu kaya hepi banget gitu." tanya Raga sambil menyeruput kopi.
"Emh, beberapa tahun terakhir aku proses healing, Ga. Mengerti pola-pola perilakuku sendiri, luka-luka emosi, dan menyembuhkan diri dengan berbagai cara. Sehingga aku ngga begitu takut jika suatu saat seseorang yang aku dekati menyinggung luka itu. Menurutku orang yang sensitif dan tidak stabil secara emosi itu adalah orang yang punya banyak luka. Aku bisa bilang begini karena aku merasakannya sendiri.
Aku bahagia banget, Ga. Bisa membuka diri dan merasa aman dengan kamu. Entah, kaya perasaan aman walaupun aku tidak tahu nantinya. Aku yang biasa overthink everything, mulai bisa tenang"
Raia menyeruput kopi, melihat ke mata Raga, "I am purely happy, here, now, with you. I am not afraid anymore in showing my feelings. I want it now before things happen and I won't have more chances to show you my feelings now".
"Ya, kamu masih orang yang sensitif 2 bulan lalu. You're a different person if I may say".
"Maybe", kata Raia sambil senyum misterius. Raia tidak membuka cerita bagaimana selama bertahun-tahun dia menyembuhkan dirinya sendiri. Menangis, merenung, mencari solusi, mengubah respon terhadap situasi secara sadar. Raia memang seorang poker face. Tidak banyak yang tahu kehidupan emosinya kecuali dirinya sendiri dan manusia bayangan yang selalu masuk di pikirannya saat dia ingin cerita genuine tentang dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar