Sudah jam 3 sore, tapi Raia masih tiduran di kasur. Mencari inspirasi, outfit apa yang akan dia pakai untuk date bareng Raga. Jam 4 harusnya dia sudah on the way, tapi dia masih mager aja. Ngga seperti sodaranya, Melly, yang sukanya kalo prepare ngedate pasti udah dari 3 jam sebelumnya. Kalo Raia, prepare outfit ngedate di kepalanya dulu. Imajinasikan perpaduan outfit yang sesuai dengan dirinya sendiri tapi masih relevan. Masih ada sisi diri Raia yang tidak bisa dia showcase di publik, karena gaya dia aslinya eksentrik, yang menikahkan sisi maskulin dan feminin dari dalam dirinya Raia. Seorang yang powerful, tapi masih dibalut dengan kelembutan. Seorang yang menunjukkan sisi the go-getter, tapi masih considerate dengan situasi.
"Fiuh, jadi diri sendiri di sini masih belum bisa all-out. Argh, pengen sih, tapi nanti aja lah. Kali ini outfit yang "fine" aja", pikir Raia, "I have planned things out, so I am confident that things will be on point".
Oke, jadi setengah jam sebelum berangkat, baru Raia mandi, make-up, dan dressed-up.
Jam 4.05, hp Raia berdering. "Ray, aku dah sampe di stasiun. Tapi ini ujan deres banget Ray, aku ngga bisa nyampe sesuai dengan jadwal nonton. Gimana? ini deres banget, atau nanti aku nyusul aja ya. Atau ketemu pas dinner nanti aku samperin km di mall?"
Raia udah punya rencana A, B, dan C. Dia tahu mana yang bisa play-out sesuai situasi. Jadi dia tenang menjawab "Okey, Ga. Engga masalah nanti aku ikut rencana kamu aja yang paling pas dengan situasi kamu karena kamu yang lebih tahu". Jawab Raia sambil make-up.
"Okay aku akan segera ke movie aja deh ya tapi bakalan mepet dan aku ngga bisa jemput kamu di rumah"
"Ga masalah, Ga, see you there"
Okay, balik lagi ke dressed up, selama ini Raia selalu mikir kalo dia ngedate sama temennya yang lain, dia selalu menurunkan selera berpakaiannya karena beberapa teman ngedate dia belakangan bukan tipe yang dia rasa match sama selera dia. Iya sih mereka jadi diri sendiri, dan Raia pikir itu fine selama mereka nyaman karena yang terpenting adalah kualitas pertemuan mereka yang harus membawa kenyamanan untuk Raia dan teman ngedatenya.
Walaupun Raia juga akhirnya harus nurunin cara berpakaian dia. Dan sebenarnya engga nyaman buat Raia sendiri, tapi biar ada harmoni gitu. Engga bisa juga berpakaian smart stylish saat engga match sama gaya berpakaian temen ngobrolnya.
Dan akhirnya Raia ngerasa fine untuk dress-up sesuai dengan dirinya. Tanpa takut ada gap.
Raga dan Raia dulunya memang tidak selalu ketemu tiap minggu. Bisa jadi seminggu atau dua minggu sekali bergantung kesibukan mereka. Dua tahun terakhir Raga ada rintisan bisnis di Jakarta membuat pertemuan semakin jarang. Kebetulan Raga baru pulang karena ada agenda bisnis, jadi mereka janjian untuk ngedate. Biasanya, saat mereka masih tinggal di kota yang sama, lebih sering mereka juga hanya ngobrol di roof top. Ngedate ini, mereka rencana nonton dr. Strange, film kesukaan mereka berdua.
Raga menelepon Raia lagi, "Ray, jemput aku ya?"
"Okay, aku berangkat sekarang. Kirim lokasi kamu ya"
Lalu Raia berangkat, jemput Raga, lanjut menuju movie theater. Di jalan, Raia ngobrol sama Raga nanya tentang bisnis baru Raga di Jakarta. Sambil Raia mencium aroma tubuh Raga, ia rindu dengan aroma tubuhnya. Raia itu penyuka parfum. Dia koleksi banyak parfum, karena setiap parfum itu memberi mood yang berbeda. Dan aroma parfum Raga itu soft, lembut. Aroma yang bikin kalem. Bukan aroma yang terlalu maskulin seperti kebanyakan aroma Bvlgari. Ini aroma woody dan rempah. Jalanan masih basah oleh air hujan yang ternyata sangat deras beberapa jam yang lalu. Raia sendiri tidak tahu, karena di area rumahnya hujan tidak terlalu deras. Sambil sebelumnya dia praktik weathering agar ga hujan atau biar hujan berhenti. Ya, karena dia ga mau high-heels nya basah.
Mereka sampai di movie theater. Antrian banyak dan panjang. Raia juga bingung ya kenapa ada antrian begitu panjang. Satpam mendekati mereka, "Mba, studio berapa?". "Satu". "Wah, ini cancel di studio satu karena bocor saat hujan deras tadi". "Oh... Oke...... ".
Raia menghampiri Raga yang baru berdiri di belakang kerumunan orang yang mengantri di depan ticket booth, "Ga, gagal nonton karena plafon ambrol dihantam hujan deras".
Raga terlihat cemas, "Lha terus gimana?", takut Raia kecewa.
"Okey, gapapa, belakangan aku sadar kok kalo perencanaanku tidak selalu harus berjalan sesuai dengan keinginanku. Ngga tahu akhir-akhir ini aku berubah aja."
"Iya biasanya kamu bakalan bad-mood deh dengan ini. Ntar sebel berjam-jam, atau malah pulang ngga jadi hang out".
"Yah, setelah kamu ke Jakarta itu aku juga belajar memperbaiki kebiasaan yang menurutku tidak baik, semisal memaksakan apa yang aku rencanakan harus berjalan sesuai dengan yang kumau. Tapi aku belajar bahwa ketika aku menyerahkan hasil dari rencanaku ke kekuatan yang lebih tinggi, atau pasrah gitu, malah hasilnya jauh lebih baik daripada yang kurencanakan. Misal nih, aku ngambek, badmood, milih pulang daripada dinner ma kamu. Tapi sekarang aku masih lebih kalem pikiranku, ngga nonton dulu gapapa, masih bisa dinner kan?"
"Ya aku dah siap siap aja dengerin kamu bawel nanti. Kamu bakalan muntahin yang kamu sebel ke aku".
"Engga, kita ngobrolin movie terbaru kamu aja yuk, sambil dinner di resto ayam goreng lantai 3, mau?"
"Okey.." jawab Raga, masih dengan persiapan bahwa Raia akan sebel banget saat rencananya gagal.
Mereka memilih menu ayam goreng Jawa. Menu yang sama. Raga pun mikir, tentang apa yang terjadi sama Raia, "Ini anak aneh banget ngga ada marahnya, bawelnya. Sebulan terakhir engga banyak cerita, eh sekarang ni anak beda banget. Bisa ngobrol banyak dan netral. Lagian nih anak tumbenan pakai dressed up stylish cantik gini, biasanya cuman jeans sama hem doang gaya batas minimal tanpa make up pula. Nah ini pake high-heels, biasanya juga cuman sepatu lari"
"Raga, aku pengen nanti km gandeng tanganku ya. Mau ga?", Raia tahu karena bakalan aneh mungkin di mata Raga karena Raia tidak pernah minta gandengan tangan sebelum sebelumnya. Iya mereka memang sangat dekat tapi tidak ada status atau label resmi diantara mereka. Hanya suatu keinginan untuk ada buat satu sama lain. Keinginan masing-masing untuk dekat, terkoneksi.
"Hm, duh, aku ngga pernah nyaman gandeng tanganmu di tempat umum, Ray".
"Emang kamu ngga pernah gandeng juga sih Ga, hihi.. aku pengen aja. Okay?"
"Well, okay.. ga tau ya nanti mungkin berasa aneh"
"Let's see". Kata Raia.
...